Catatan Akhir Zaman

Sebagai renungan diri, Pencarian solusi , sambil menunggu mati ....O_n

CAZ 2010

Bagaimana kesan anda menjadi manusia Akhir Zaman ? Ber-Aksi reaksi dengan KeAjaiban sehari-hari ...

>> mungkinkah ini juga yg terjadi di Indonesia tercinta ... ????

*Jatuhnya "Benteng Terakhir" Turki Utsmani*

*Sultan Abdul Hamid II*



Beberapa referensi sejarah menyebutkan bahwa Sultan Abdul Hamid II pernah
berteriak di depan wajah Bapak Zionisme Theodor Herzl, "Pergi dari
hadapanku, hai manusia hina!" Ia pun berteriak kepada penjaga pintu yang
mengizinkannya masuk, "Tidak tahukah kamu apa yang diinginkan babi ini
dariku?" Setelah diusir, Herzl bersama rekannya bankir Yahudi Mizray Qrasow
pergi ke Italia. Kemudian Qrasow mengirim telegram kepada Sultan, "Anda akan
membayar pertemuan itu dengan nyawa dan kekuasaan Anda."



Yahudi benar-benar bertekad menjatuhkan Abdul Hamid. Terbukti pada tahun
1904 mereka meledakkan sebuah truk di depan masjid tempat Sultan
melaksanakan shalat Jumat, namun Allah menyelamatkannya dari kematian,
padahal ketika itu banyak orang yang tewas.



Selanjutnya orang-orang Freemason berkonspirasi untuk menjatuhkan Sultan
dari dalam. Mereka memiliki agen-agen yang menjadi pejabat-pejabat tinggi
negara, seperti Thal'at Pasha, Menteri Pertahanan Anwar Pasha, Menteri
Pendayagunaan Arstidi Pasha, Gubernur Syam Jamal Pasha, Menteri Keuangan
Jawid Pasha (David Pasha), dan Mushthafa Kamal Pasha (Komandan Perang
Wilayah Timur Arab dalam Perang Dunia 1).



Lama-kelamaan Sultan merasa dirinya dikelililingi oleh orang-orang yang
sudah dibeli oleh gerakan Freemasonry yang memiliki kover organisasi Ittihat
we Terrakki (IWT) (Persatuan dan Kemajuan).



Genggaman kekuasaan Sultan sedikit demi sedikit mulai melemah, hingga
akhirnya mereka berhasil memaksa Sultan untuk mengumumkan konstitusi baru.
Akhirnya Sultan membentuk Majalis Mab'utsan (semisal Dewan Perwakilan
Rakyat) yang di dalamnya bisa dimasuki orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim.
Mizray Qrasow sendiri masuk dalam majelis tersebut.



Konstitusi tersebut diumumkan pada tahun 1908. Pengumuman konstitusi baru
ini adalah dianggap sebagai kemenangan besar bagi orang-orang Kristen dan
Yahudi di berbagai belahan dunia, sampai-sampai George Zaidan, tokoh Kristen
pemilik Darul Hilal, menghadiahkan bukunya yang berjudul Al-lnqilab
Al-'Utsmani (Revolusi Utsmaniyah) kepada orang-orang yang dianggapnya
pahlawan tersebut.



Kemudian Majalis Mab'utsan bersidang untuk mengeluarkan surat pernyataan
dilengserkannya Sultan. Dalam momen ini hakhom Yahudi Konstantinopel yang
bernama Nahum Haym memiliki peran sangat menonjol. Ada tiga orang, yang
kemudian mengajukan surat pencopotan tersebut kepada Sultan, yaitu Mizray
Qrasow, Arstidi Pasha, dan Arif Hikmat, perwira angkatan laut yang ibunya
menjadi pelayan di istana Sultan. Untuk mengamankan revolusi, orang-orang
Freemason berhasil menggerakkan tentara di bawah pimpinan Mahmud Syaukat,
seorang komandan berdarah Arab.



Pelengseran Sultan Abdul Hamid dari tampuk khilafah terjadi pada April 1909.
Ini adalah pukulan yang sangat telak bagi umat Islam. Pada malam ketika
Sultan Abdul Hamid turun tahta, bisa dikatakan bahwa Islam secara nyata
telah disingkirkan dari kehidupan bernegara dan masyarakat, dan pada
dasarnya Palestina juga sudah jatuh ke tangan Yahudi.



Anwar Pasha—salah satu tokoh Freemason dan aktor di balik pemberontakan
terhadap Sultan—pernah berkata dengan nada "penyesalan" kepada Jamal Pasha,
"Wahai Jamal, tahukah kamu apa dosa kita? Kita tidak mengenal dengan baik
siapa itu Sultan Abdul Hamid sehingga kita diperalat oleh Zionis.
Orang-orang Freemason internasional telah membeli kita sehingga kita
mengerahkan segala upaya demi kepentingan Zionis. Inilah dosa kita
sebenarnya."



Dalam bukunya *Da'wah Al-Muqawamah Al-'Alamiyyah*, Abu Mush'ab As-Suri juga
pernah mengutip pernyataan Bernard Lewis, sejarawan Yahudi ternama dari
Amerika, "Rekan-rekan kita dari kalangan Masonis dan Yahudi telah
bekerjasama secara diam-diam untuk menyingkirkan Sultan Abdul Hamid. Dia
adalah penghalang yang kuat bagi bangsa Yahudi, sebab dia menolak memberikan
Tanah Palestina untuk Yahudi walaupun hanya sejengkal."



*Wibawa Sultan Abdul Hamid II di Mata Dunia*



Meskipun Inggris dan Prancis sejak lama lagi ingin menghancurkan Daulah
Utsmaniyah, tetapi istilah 'Jihad'- masih cukup berdaya untuk menjadikan
Eropa menggeletar. Eropa masih takut terhadap "Orang Sakit Eropa", julukan
bagi Daulah Utsmaniyah.



Di Prancis, misalnya, pernah ada rencana pementasan teater yang diadaptasi
dari karya *Voltaire*. Drama itu bertema "Muhammad atau Kefanatikan" yang
isinya mencaci Rasulullah. Di samping itu juga menghina putra angkat beliau
Zaid bin Haritsah serta istrinya Zainab—yang setelah bercerai dinikahi oleh
Rasulullah.



Setelah mengetahui berita tentang rencana pementasan tersebut, Sultan Abdul
Hamid II memperingatkan pemerintah Prancis melalui duta besarnya di Paris
agar menghentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan dampak politik
yang bakal dihadapi Prancis jika pementasan tersebut nekat dilanjutkan.
Prancis pun serta-merta membatalkannya.



Grup teater itu pun datang ke Inggris untuk melanjutkan pementasan serupa
dan sekali lagi Sultan memperingatkan Inggris. Kali ini Inggris menolak
peringatan tersebut dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan
drama bertentangan dengan prinsip kebebasan rakyatnya. Perwakilan Turki
Utsmani di Inggris pun menyatakan ke Pemerintah Inggris bahwa meskipun
Prancis mempraktikkan "kebebasan", tetapi mereka telah melarang pementasan
drama tersebut. Namun, Inggris berkilah bahwa kebebasan yang dinikmati oleh
rakyatnya jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Prancis.



Setelah mendengar jawaban itu, Sultan Abdul Hamid II sekali lagi
memperingatkan, "*Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan
menyatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya
akan menyatakan jihad fisabilillah (perang)*." Mendapat gertakan ini,
Inggris dengan segera melupakan klaim "kebebasan berekspresi"nya, dan
pementasan teater itu pun dibatalkan.



Jadi, meskipun Daulah Utsmaniyah berada dalam kondisi sekarat, namun Sultan
Abdul Hamid II masih dihormati di kancah internasional, dan kata "jihad"
mengintimidasi kekuatan besar Barat. Inilah intervensinya dalam rangka
melindungi kepentingan umat Islam dalam urusan global. (Buletin Khilafah No.
15, 23 Juni 1989, Inggris dan Ar-Rayyah, Vol. 3, Ed. 4, April 1994).



Kehebatan Abdul Hamid diakui sendiri oleh penguasa Eropa seperti Raja Jerman
Wilhelm II. Dia pernah berkata, "Aku telah menemui banyak raja dan penguasa
sepanjang hidupku. Aku temukan mereka semua lebih lemah jika dibandingkan
denganku, atau yang terkuat sekalipun adalah yang sebanding denganku. Namun,
jika berhadapan dengan Abdul Hamid, aku merasa gentar." Wilhelm II memang
pernah mengunjungi Abdul Hamid pada tahun 1898.



*Mushthafa Kamal: Menghancurkan Turki dan Menyingkirkan Khilafah*



Setelah kejatuhan Sultan Abdul Hamid II, selanjutnya Turki dikendalikan oleh
Kelompok Turki Muda dan IWT yang juga sudah dikendalikan oleh Yahudi
Freemason.



Begitulah, ujian dan goncangan menimpa Turki secara bertubi-tubi. Institusi
khilafah yang lemah dipermainkan oleh orang-orang IWT yang mempropagandakan
nasionalisme.



Mereka sendiri umumnya adalah orang-orang sekular dan anti-Islam.
Tempat-tempat ibadah Yahudi-Masonik pun tersebar begitu cepat, sementara
utang negara juga semakin menumpuk.



Semua itu akibat oleh ulah tangan Yahudi yang ingin melemahkan Turki
sehingga mereka bisa sampai ke Palestina, "Tanah yang Dijanjikan".

Turki keluar dari Perang Dunia I dan II dalam keadaan "hancur lebur".
Negara-negara Sekutu berebut untuk membagibagi "warisan" wilayahnya yang
luas. Eropa pun bisa beristirahat dengan tenang dari "sosok menakutkan" yang
telah membuat mereka sulit tidur dalam kurun waktu yang cukup lama.



Kemudian tampil Mushthafa Kamal Attaturk, padahal sebelumnya ia kalah dalam
pertempuran di Timur Arab. Sosoknya menonjol sebagai komandan militer
setelah terlibat pertempuran sengit melawan Yunani. Sejak itu pena mulai
bergerak menuliskan kemenonjolan Musthafa Kamal. Sebagian pengamat sejarah
dan politik berpendapat bahwa sikap diam Triple Entente –tiga negara
pengawas, yaitu Inggris, Prancis, dan Rusia, yang menyiagakan pasukan di
dekat front pertempuran antara Turki vs Yunani–karena memiliki tujuan
tersendiri. Sosok Mushthafa Kamal perlu ditonjolkan agar dia bisa
menjalankan peran yang sudah menunggunya, yakni memerangi Islam dan
meruntuhkan khilafah.



Akhirnya negara-negara koalisi itu menarik diri dari Turki. Ketika Majelis
Umum Inggris mengkitik Karzon yang menyetujui penarikan pasukan koalisi dari
Turki—karena khawatir Turki akan bangkit kembali untuk menyerang Eropa—maka
Karzon menjawab, "Jangan khawatir, Turki tidak akan bangkit kembali setelah
kami melepaskannya dari Islam dan khilafah."



Sumber :  *An-Najah* Edisi 68 Jumadil Ula 1432 H. Mei 2011 M