Catatan Akhir Zaman

Sebagai renungan diri, Pencarian solusi , sambil menunggu mati ....O_n

CAZ 2010

Bagaimana kesan anda menjadi manusia Akhir Zaman ? Ber-Aksi reaksi dengan KeAjaiban sehari-hari ...

Wahai Putriku

Oleh : Ali Ath-Thanthawi

Penerjamah: Abdullah

Editor: Munir F. Ridwan, Muhammadun Abdul Hamid

Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun.
Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak
negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.

Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlan
nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalam
anku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.

Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan
dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami
tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan
semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan
pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.

Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya.
Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di
tanganmu.

Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi
bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata
bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah.
Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan
masuk . ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling .! Tolong .
tolong. saya kemalingan.

Demi Allah . dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis
itu telah ia telanjangi pakaiannya.

Demi Allah . begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki,
bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan
berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.

Demi Allah . ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu,
kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan
perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba
kau pikirkan!

Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan,
dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu.
Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan
engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis,
keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam
kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.

Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya.
Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil,
kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua
ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu
anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak
laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu
untuk melamar.

Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga
status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat
didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga
yang terhormat.

Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung
belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan
tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah
tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.

Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis
perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para
pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup
untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum
juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini?
Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk
melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara
menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah
kalian, para wanita mulia dan beragama.

Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila
mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari
perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih
membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka
: kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang

cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di
sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal?
Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal.

Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung
bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa
yang akan simpati?

Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai
seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek
tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana
dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih
belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di
atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?

Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu
petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati
saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat
mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis
yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.

Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita
kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke
jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan
sedikit demi sedikit.

Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam
waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang
semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh,
tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya
satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai.

Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita
membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan
mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan
suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di
jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah,
berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa
bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu
dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh
penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis
atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.

Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan
adalah pembohong dilihat dari dua sebab :

Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka,
memberikan kenikmatan-kenikmat an melihat angota badan yang terbuka dan
kenikmatan-kenikmat an lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak
berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang
mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi,
kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna
bagaikan gendang.

Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan
eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali
apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york.
Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di
lapangan dan telanjang di pantai (atau di

kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya
dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa
kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas
itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido
seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba
pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak
pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan
percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?

Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar,
saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah
menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi
saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan
beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang
menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.

Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan
dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak
asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus.

Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki
anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas
kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis.
Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya
ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.

Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan
wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat
yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.

Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan
lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka
hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang,
mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan
bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.

Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan
percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki,
kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian
umat pun kan menjadi baik. (wallahul musta'an).

Disarikan dari buku : "Wahai Putriku" Ali Thanthawi